FT: II Timotius 1:5, 3:15-17
Boy memang baru berumur enam tahun. Tetapi jangan tanya kesibukannya. Sejak jam enam pagi hingga sembilan malam, ia sibuk. Bangun pagi, sekolah, mengikuti berbagai macam les dan lomba. Apa Boy tidak capek? Pasti! Namun bukan tanpa maksud, orangtuanya menyiapkan kegiatan demi kegiatan bagi Boy. Mereka ingin Boy menjadi anak yang berprestasi dan membanggakan.
Kalau soal ini, rasanya semua orangtua ingin membekali anaknya dengan kegiatan yang positif, agar kelak menjadi seorang yang bergunaa. Untuk masa depan anak, sepertinya semua orangtua akan memberikan yang terbaik. Sebentar, benarkah seperti itu? Ada yang justru sering luput dari perhatian orangtua. Memberikan pendidikan iman malam sering terlupakan. Banyak orangtua berpikir menyiapkan warisan bagi anak-anaknya. Entah itu dalam bentuk deposito, surat berharga, rumah, tanah, atau perusahaan. Tetapi bagaimana dengan warisan iman? Lagi-lagi inipun sering luput dari perhatian orangtua.
Kita patut belajar dari ibu Eunike dan nenek Lois. Mereka telah memberikan warisan yang berharga kepada Timotius. Apa itu? Ya, warisan iman. Paulus tidak sulit menerangkan tentang Kristus kepada Timotius muda, sebab sejak kecil Timotius telah mengenl Kitab Suci, yang oleh Paulus dikatakan, telah ''memberi hikmat dan menuntun kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus.'' (II Timotius 3:15) Nenek dan ibunya telah menyiapkan semuanya sejaak Timotius masih anak-anak, sehingga kelak Timotius menjadi pemimpin muda yang membanggakan.
Apakah kita sudah menyiapkan warisan kepada anak-anak kita? Bukan sembarang warisan, tetapi warisan yang kekal, yang tidak akan rusak dan hancur. Semoga anak kita bukan hanya menjadi seperti Boy yang sibuk. Tetapi Boy yang mengenal dan mempercayai siapa Tuhannya.
DienNLin/29072012 (GKI Manyar)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar